Enam Perempuan di Desa Waringin Siapkan 1.289 Bibit Mangrove untuk Pemulihan Pesisir

Enam Perempuan di Desa Waringin Siapkan 1.289 Bibit Mangrove untuk Pemulihan Pesisir

Oleh Julyati 13 Oct 2026 2

Enam Anggota Sekolah  perempuan di Desa Waringin, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menyiapkan 1.289 bibit mangrove yang direncanakan ditanam pada akhir November 2026. Pembibitan ini menjadi bagian dari Program Perempuan Inspiratif untuk Aksi Iklim (PERISAI) sebagai upaya mendorong pemberdayaan perempuan sekaligus mendukung pemulihan ekosistem pesisir. Dari total bibit yang disiapkan, sebanyak 1.028 bibit merupakan jenis Rhizophora, sedangkan 201 bibit lainnya merupakan jenis Bruguiera. Kedua jenis mangrove tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan vegetasi pesisir yang diharapkan dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi Indonesia Locally Managed Marine Area (ILMMA), LBH Perempuan dan Anak Kabupaten Pulau Morotai, serta Komunitas Sekolah Perempuan Morotai. Melalui program tersebut, perempuan didorong untuk terlibat secara langsung dalam aksi pelestarian lingkungan sekaligus memperkuat kapasitas dan partisipasi mereka dalam kehidupan masyarakat.

Asya, salah satu anggota sekolah perempuan yang terlibat dalam pembibitan tersebut, menyampaikan kegiatan ini memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berkontribusi secara nyata dalam menjaga lingkungan dan masa depan desa. “Bagi kami, membibitkan mangrove bukan hanya tentang menyiapkan tanaman untuk ditanam, tetapi juga tentang bagaimana kami sebagai perempuan bisa mengambil bagian dalam menjaga lingkungan dan masa depan desa kami. Sebanyak 1.289 bibit mangrove yang kami siapkan menjadi bukti bahwa dengan semangat dan kerja bersama, kami juga bisa berkontribusi dalam pemulihan ekosistem pesisir,” kata Asya.

Ia berharap seluruh bibit mangrove tersebut dapat tumbuh dengan baik setelah ditanam pada akhir November mendatang. Menurutnya, keberhasilan kegiatan ini tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang disiapkan, tetapi juga dari keberlanjutan penanaman dan pemeliharaannya. “Kami berharap bibit mangrove ini dapat tumbuh dengan baik setelah ditanam pada akhir November nanti, sehingga bisa membantu melindungi pesisir dari abrasi dan menjaga kehidupan biota laut. Bagi kami, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga karena perempuan tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga memiliki kemampuan dan kesempatan untuk terlibat langsung dalam menjaga lingkungan,” lanjutnya.

Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Vegetasi ini membantu mengurangi dampak abrasi, menyediakan habitat dan tempat berkembang biak bagi berbagai biota, serta mendukung keberlangsungan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.

Karena itu, pembibitan 1.289 mangrove di Desa Waringin menjadi langkah awal yang perlu dilanjutkan dengan penanaman pada lokasi yang sesuai, pemeliharaan secara berkala, serta pemantauan pertumbuhan bibit. Upaya tersebut penting agar bibit yang telah disiapkan dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Dalam Program PERISAI, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menghubungkan pemberdayaan perempuan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Komunitas Sekolah Perempuan berperan sebagai ruang belajar dan bertukar pengalaman bagi perempuan untuk memperkuat kapasitas, menyampaikan aspirasi, serta meningkatkan keterlibatan dalam kehidupan komunitas.

Kolaborasi ILMMA dan LBH Perempuan dan Anak bersama Komunitas Sekolah Perempuan turut mendukung penguatan peran perempuan sesuai dengan kontribusi masing-masing dalam program. Melalui kerja bersama tersebut, partisipasi perempuan dalam kegiatan lingkungan diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas, kesadaran terhadap hak-hak perempuan, dan keterlibatan dalam pembangunan desa.

Sebanyak 1.289 bibit mangrove yang terdiri atas 1.028 bibit Rhizophora dan 201 bibit Bruguiera menjadi bagian dari upaya enam perempuan Desa Waringin untuk berkontribusi dalam pemulihan pesisir. Keberhasilan kegiatan ini nantinya akan bergantung pada keberlanjutan penanaman, pemeliharaan, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove.

Dari Desa Waringin, enam anggota sekolah perempuan menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan nyata dan tumbuh melalui kerja bersama. Pembibitan mangrove ini tidak hanya menjadi langkah awal pemulihan ekosistem pesisir, tetapi juga mencerminkan pentingnya membuka ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dan menentukan masa depan desa mereka. 


#Perempuan #Konservasi Mangrove #Perubahan Iklim